Home » , » PANDUAN Memilih Charger Baterai LiPo

PANDUAN Memilih Charger Baterai LiPo

balance charger
Professional Balance Charger/ Discharger (Sumber gambar www.skyrc.com)

Pada artikel sebelumnya, berkali-kali disebutkan jika charger yang anda gunakan turut menentukan usia baterai anda. Oleh karena itu, anda harus cermat dalam memilih charger baterai lipo. Sebelum memutuskan untuk membeli charger sebaiknya cari tahu terlebih dahulu, baik dari forum ataupun website tertentu.

Berikut ini beberapa hal yang harus anda perhatikan ketika akan memutuskan untuk membeli charger:

1. Charger atau Balance Charger

Tidak semua charger memiliki fitur balancer, namun kebanyakan charger untuk baterai lipo punya kemampuan untuk menyimbangkan proses charging. Balance charger harganya biasanya lebih tinggi dari charger biasa, karena memiliki fitur untuk memeriksa tegangan dari masing-masing sel dan menjaga semua sel tetap memiliki tegangan yang sama.

Balance charger yang canggih, biasanya dapat menampilkan tegangan dari masing-masing sel pada sebuah layar. Fitur balancer pada charger ini merupakan salah satu fitur safety, untuk menjaga agar baterai tidak rusak atau meledak karena tegangan yang terlalu rendah atau tinggi (over).

Pada charger baterai Imax B6 Mini, terdapat dua buah konektor untuk charger, pertama konektor utama untuk mengisi ulang baterai (Dean Plug/ T plug), kedua konektor sekunder untuk mengaktifkan fungsi balancer (soket). Jika hanya konektor utama yang dihubungkan maka charger tidak memiliki fungsi balancer.


2. Power Output dan Power Supply

Kedua istilah ini sengaja disatukan, agar tidak tertukar pada saat penggunaannya. Power output adalah besaran daya yang bisa charger isikan ke dalam baterai, ditandai dengan satuan W (Watts). Beberapa charger dapat memberikan output sampai dengan 60W. Semakin besar daya yang bisa diisikan maka baterai akan semakin cepat terisi. Pada charger, konektornya berasal dari charger menuju baterai yang akan diisi ulang. bukan sebaliknya.

Daya (Watt) merupakan hasil perkalian dari Arus (Ampere ; I) dengan Tegangan (Voltase ; V). Misalnya: kita akan mengisi baterai lipo 3S kapasitas 1100 mAh, maka perhitungannya adalah:
* 1100 mA = 1.1 A
* Voltase Konstan Baterai 3S = 3 x 3.7V = 11.1 V
* Voltase Maksimum 3S =  3 X 4.2 V = 12.6 V
* Daya yang dibutuhkan dengan tegangan maksimum = 12.6 V x 1.1 A = 13.86 Watt

Sementara itu, Power Supply adalah sebuah peranti elektronika yang berguna sebagai sumber daya listrik untuk peranti lain. Power supply ini merupakan sumber tenaga charger. Biasanya dapat dioperasikan pada tegangan 100-240Volt.

Kebanyakan charger tidak dapat langsung disambungkan ke sumber listrik rumah dengan tegangan 220 Volt. Oleh karena itu dibutuhkan power supply yang memberikan bisa tegangan diantara 11-18 Volt. Beberapa model lain baterai charger sudah terintegrasi dengan power supply sehingga lebih mudah. Namun tentunya dari segi harga akan lebih mahal.


3. Kompatibilitas Charger

Untuk charger lipo, kompatibilitas adalah salah satu hal yang sangat penting. Lihat terlebih dahulu pada keterangan charger atau tanyakan kepada penjual, baterai apa saja yang kompatibel dengan charger tersebut. Varian charger murah tertentu hanya mendukung 3S saja, ini artinya hanya dapat digunakan untuk isi ulang baterai Lipo tiga sel. Varian lipo charger lain mungkin hanya 3S atau 6S saja. Charger yang bagus seharusnya sudah kompatibel untuk beberapa sel sekaligus, mulai dari 1S sampai dengan 6S atau lebih.


4. Arus Pengisian 

Pada sebuah baterai Lipo, biasanya ada juga tertera informasi charging current, yaitu arus maksimum pengisian baterai yang ditandai juga dengan C rating. Kebanyakan baterai Lipo, khususnya yang 3S, memiliki charging current rate sebesar 1C atau 2C. Namun ada juga baterai Lipo yang menampilkan informasi charging rate langsung dalam satuan ampere.

Perhitungannya pada dasarnya sama dengan menghitung discharge rate, hanya tinggal mengalikan kapasitas baterai dengan rating C angka di depannya. Misalnya untuk baterai lipo kapasitas 1100 mAh dengan charging rate 2C, berarti kalikan 1100 mA dengan 2 hasilnya 2,2 Ampere. Angka ini artinya batas maksimal arus yang dapat digunakan untuk mengisi ulang baterai.


5. Battery Charging dan Fast Charging

Pada umumnya proses isi ulang baterai Lipo sama saja, yang membedakan mungkin fitur pada chargernya. Berikut ini caranya:
  1. Pasang balance charger pada power supply, lalu power supply dipasangkan pada sumber listrik rumah. Jika charger anda sudah terintegrasi dengan power supply berarti anda dapat langsung menyambungkannya ke sumber listrik rumah. Anda mungkin membutuhkan konverter tambahan dari soket kaki tiga ke kaki dua. Pastikan juga charger anda cocok dengan tegangan listrik rumahan standar di Indonesia (100-220 Volt).
  2. Setelah charger menyala, pasangkan soket utama untuk isi ulang baterai, dan soket kedua untuk mengaktifkan fitur balancer. Konektor pertama biasanya berbentuk T plug/ dean plug atau XT60, sementara konektor kedua berupa soket biasa berwarna putih. Jika hanya konektor utama yang dihubungkan kepada baterai maka charger tidak memiliki fungsi balancer. Beberapa model charger sederhana mungkin tidak memerlukan langkah ini, hanya perlu menyambungkan charger dan secara otomatis mengisi ulang. 
  3. Atur mode pengisian balance yang tepat pada charger anda, pilih jumlah sel yang sesuai, tegangan, dan charge rate. Disarankan tetap memakai 1C atau kurang dari itu, yang penting baterai awet.
  4. Mulai proses isi ulang baterai, dan pastikan anda selalu mengawasinya sampai proses isi ulang selesai.
Pada charger baterai yang cukup canggih, terdapat fitur fast charging. Kelebihannya hanya dapat isi ulang dengan cepat. Namun jika anda menggunakan fitur ini akan melewatkan langkah balancing, pengisian baterai hanya akan melihat tegangan total baterai. Proses charging akan berhenti sedikit di bawah batas maksimum tegangan (4,2 Volt per sel).

Jika anda melewatkan langkah balancing baterai, hanya akan meningkatkan resiko umur baterai berkurang dari seharusnya. Potensi hidup baterai akan lebih lama jika tidak menggunakan fitur fast charging ini.


6. Battery Storage Mode pada Charger

Salah satu fitur lain pada balance charger yang canggih adalah bisa memprogram saat baterai akan disimpan dalam waktu lama. Pada artikel sebelumnya disebutkan jika akan menyimpan baterai untuk waktu lama, sebaiknya simpan pada kondisi kurang lebih setengah full, 40-50%. Pada fitur battery storage mode ini, charger akan otomatis mengisi daya pada kisaran 50%.


7. Konektor-konektor

Pada artikel sebelumnya, disebutkan bahwa kabel yang biasanya dipakai untuk charger dan baterai ersop adalah kabel dengan indeks AWG 16 atau 18, yang mampu mengalirkan arus besar dengan hambatan kecil. Pada dasarnya semakin kecil angka AWG maka kemampuan menghantarkan arus semakin besar dan kabelnya juga semakin tebal.

Anda masih ingat dengan C rating? Semakin tinggi C rating maka arus akan lebih besar. Oleh karena itu dibutuhkan dengan kabel dengan indeks AWG kecil (lebih tebal). Untuk bisa menangani arus besar pilih juga konektor yang tepat. Beberapa jenis konektor diantaranya sebagai berikut:
  • JST connector
  • Konektor Deans / T-Plug
  • Konektor XT60
  • Konektor EC3
  • Konektor EC5
  • Konektor bullet 2mm
  • Konektor bullet 3.5mm
  • Konektor bullet 4mm
  • Konektor bullet 6mm
  • Konektor bullet 8mm
Konektor terbaik yang biasanya dipakai untuk airsoftgun adalah T-Plug/ Deans atau XT60, keduanya cukup populer, cukup aman dan mampu mengalirkan arus yang cukup besar. Lagipula jika anda butuh baterai pinjaman akan lebih mudah jika anda menggunakan konektor yang sama dengan orang lain. Namun hati-hati dengan konektor abal-abal yang mungkin tidak sesuai dengan kemampuan konektor seharusnya karena perbedaan kualitas bahan.

Demikian panduan memilih charger baterai Lipo, semoga bermanfaat!

Thanks for reading & sharing Guidance and Tips

Previous
« Prev Post

1 comments:

Translate to Your Language